IRI, CARE dan CCROM-SEAP-IPB telah mengidentifikasi keterkaitan antara anomali iklim, indikator biofisik, dan jumlah titik panas di wilayah Kalimantan Tengah dan provinsi lain di sekitarnya, dimana merupakan wilayah dengan lahan gambut terbanyak di Indonesia. Proyek penelitian ini belum memperhitungkan korelasi antara data curah hujan dari satelit dan aktivitas titik panas. Dalam beberapa kasus, curah hujan musim kemarau di bulan Juni hingga Oktober sangat menentukan aktivitas titik panas dan kebakaran. Untuk informasi lebih lanjut mengenai hasil kegiatan ini, dapat menghubungi Pietro Ceccato (pceccato@iri.columbia.edu).
Berdasarkan temuan diatas, data curah hujan satelit dapat digunakan untuk mengindikasikan apakah pada musim berikutnya kebakaran akan lebih sedikit atau bahkan lebih intens dari biasanya. Oleh karena itu, IRI telah mengembangkan tool -- online yang memungkinkan anda untuk melihat data curah hujan satelit dan anomali curah hujan se-Indonesia (Lihat penjelasan selanjutnya mengenai: Tool Analisis Curah Hujan). Dari situs ini anda dapat memperoleh informasi mengenai hubungan antara curah hujan dan aktivitas titik panas di wilayah Kalimantan, data tersebut dapat digunakan untuk membantu analisis resiko kebakaran.
Selain itu, IRI telah membangun Experimental Forecast of Fire Activity (Prakiraan ekperimental aktivitas api) untuk wilayah Kalimantan (lihat link di bawah ini). Tool ini dapat digunakan untuk memprediksikan tinggi rendahnya aktivitas api pada 1-2 bulan ke depan, menggunakan korelasi antara indeks suhu muka laut dan jumlah kejadian titik panas di Kalimantan Tengah, Indonesia.
IRI terus bekerja sama dengan berbagai pihak di Indonesia untuk mengembangkan metode dan alat, serta mengembangkan analisis untuk wilayah lain yang memiliki hubungan erat antara kejadian kebakaran dan iklim.

